- Back to Home »
- Mitos Suatu Daerah kemudian dikaitkan termasuk mitos, legenda, atau cerita rakyat
Posted by : Unknown
Rabu, 19 Maret 2014
PUTRI PUKES
Tidak semua
orang Gayo mengetahui cerita legenda Putri Pukes, sebagian dari orang Gayo itu mengetahui
legenda itu tetapi tidak mengetahui bagaimana ceritanya. Menurut cerita dan
informasi yang dikumpulkan dari berbagai sumber yang mengetahui tentang
legenda Putri Pukes.
Gua Putri
Pukes terletak di sebelah utara, tepatnya di Kampung Mendale, Kecamatan
Kebayakan, Aceh Tengah Putri Pukes merupakan nama seorang gadis kesayangan dan
anak satu-satunya yang berasal dari sebuah keluarga di Kampung Nosar, Kecamatan
Bintang, Aceh Tengah.
Suatu hari
dia, dijodohkan dengan seorang pria yang berasal dari Samar Kilang, Kecamatan
Syiah Utama Kabupaten Aceh Tengah (sekarang Kabupaten Bener Meriah). Pernikahan
pun dilaksanakan, berdasarkan adat setempat.
Mempelai
wanita harus tinggal dan menetap di tempat mempelai pria. Setelah resepsi
pernikahan di rumah mempelai wanita selesai, selanjutnya kedua mempelai diantar
menuju tempat tinggal pria. Pihak mempelai wanita diantar yang dalam bahasa
gayo disebut ‘munenes’ ke rumah pihak pria ke Kampung Simpang Tiga Bener
Meriah.
Pada acara
‘munenes’ pihak keluarga mempelai wanita dibekali sejumlah peralatan rumah
tangga seperti kuali, kendi, lesung, alu, piring, periuk dan sejumlah
perlengkapan rumah tangga lainnya. Adat ‘munenes’ biasanya dilakukan pada acara
perkawinan yang dilaksanakan dengan sistem ‘juelen’, dimana pihak wanita tidak
berhak lagi kembali ke tempat orangtuanya.
Berbeda
dengan sistem ‘kuso kini’ (kesana kemari) atau ‘angkap’. Kuso kini, pihak
wanita berhak tinggal di mana saja, sesuai kesepakatan dengan suami. Sementara
sistem ‘angkap’, adalah kebalikan dari ‘juelen’, pada sistem perkawinan ini,
pihak lelaki diwajibkan tinggal bersama keluarga pihak wanita, disebabkan pihak
wanita yang mengadakan lamaran terlebih dahulu.
Pernikahan
ini juga disebabkan beberapa hal antara lain, mempelai pria sebelumnya meminta atau
mengemis kepada wali mempelai wanita untuk dinikahkan dengan putrinya, dengan
alasan sangat mencintainya. Sehingga sebagai persyaratannya, pihak pria harus
tinggal bersama keluarga mempelai wanita.
Disinilah
detik-detik terjadinya peristiwa sehingga nama Putri Pukes terkenal hingga
sekarang, saat akan melepas Putri Pukes dengan iringan-iringan pengantin, ibu
Putri Pukes berpesan kepada putrinya yang sudah menjadi istri sah mempelai
pria. “Nak…sebelum kamu melewati daerah Pukes yaitu daerah rawa-rawa sekarang
menjadi Danau Laut Tawar. Kamu jangan penah melihat ke belakang,” kata
ibu Putri Pukes.
Sang putri
pun berjalan sambil menangis dan menghapus air matanya yang keluar terus
menerus. Karena tidak sanggup menahan rasa sedih, membuat putri lupa dengan
pantangan yang disampaikan oleh ibunya tadi. Secara tak sengaja putri menoleh
ke belakang, dengan tiba-tiba putri pukes langsung berubah menjadi batu seperti
seperti yang sekarang kita jumpai di dalam Gua Putri Pukes. Apakah itu hanya
mitos atau memang benar-benar terjadi, tetapi warga setempat percaya kalau
cerita Putri Pukes itu benar ada.
Menurut saya cerita Putri Pukes ini termasuk ke dalam cerita rakyat karena mengisahkan tentang suatu kejadian di suatu tempat atau asal muasal suatu tempat. Fungsi cerita rakyat selain sebagai hiburan juga bisa dijadikan suri tauladan terutama cerita rakyat yang mengandung pesan-pesan pendidikan moral. Banyak yang tidak menyadari kalau negeri kita tercinta ini mempunyai banyak cerita rakyat Indonesia yang belum kita dengar, bisa dimaklumi karena cerita rakyatmenyebar dari mulut ke mulut yang diwariskan secara turun temurun.